Panggung III

Teater Menghasilkan Mereka Yang Bebal, dan Yang Beban.

✍ Afif Khoiruddin Sanjaya - 📅 11 May 2026

Teater Menghasilkan Mereka Yang Bebal, dan Yang Beban.
Afif Khoiruddin Sanjaya

Oleh Afif Khoiruddin Sanjaya , Lahir di Kudus. Menulis resensi pertunjukan, Sutradara teater, dan mengajar Bahasa Indonesia.

Meletupnya Gadis Pingitan lewat pemutaran film sekaligus pertunjukan drama yang digagas oleh MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Kudus bersama Saka Karsa Pictures, membuat nadi seni di Kota kita tercinta ini kian gemuruh. Apalagi hal-hal yang berbau tradisi, lestari, dan percikan-percikan ironi. Mau ataupun tidak, hal-hal tersebut selalu tumbuh subur di pikiran kita yang terus menerus berupaya membuahkan peristiwa demi peristiwa agar lebih indah seperti senyum kekasih kita, membekas bagai pertemuan pertama kali dengannya, dan terkenang seperti saat jauh darinya. Tapi, sekarang kita akan sediki berjarak dari gemuruh Gadis Pingitan dalam ruang cinema, maupun pertunjukan yang gemerlap di Auditorium UMK, 9 Mei 2026 lalu.

Kegaduhan Kudus

Dengan Hal-hal Misterius

Semalam, seekor Kawan-- penulis kiri yang pelan-pelan belok kanan mengirimkan aku pesan berisi buah pikirnya tentang pengalaman logika lumpuh, jurus catut, dan kedunguan seekor pemuda yang mecungul di antara ratusan pasang mata dalam keteduhan panggung sandiwara. Judulnya “Patologi Kebebalan di Lantai Dua: Surat Terbuka Untuk Oknum Teater”.

Aku baca tulisan itu—baris demi baris, sambil cekikikan, sedikit bumbu misuh, dan membayangkan kejadian singkat dalam latar lantai dua, yang melekat di kepala. Hihihi. Aku pikir kalimat-kalimat di dalamnya sangat mewakili perasaan penulis yang kebetulan merupakan seorang direct film Gadis Pingitan itu. Dia sebutkan dalam tulisan itu; seekor pemuda B representasi sempurna dari apa yang terjadi jika kepercayaan diri yang meluap bertemu dengan logika mampet, penemuan saksi atas lahirnya tradisi baru menjadi bebal dan arogan secara bersamaan, dan pencatatan Sejarah perihal pemuda B yang berhasil merusak suasana kerja. Sungguh, ini kelakar sekaligus mengkhawatirkan. Panggung-panggung kian terang, sedang masih saja ada secuil mas-mas yang soft spoken bertubruk dengan pola aksi mengerikan, koplak, dan sewenang-wenang.

Setelahnya, beberapa Kawan yang menebak-nebak pasca membaca tulisan itu pelan-pelan mengaduk-aduk akal sehat aku. Pasalnya, persoalan nyelekit itu secara tiba-tiba, belum ada 24 jam dari sejak aku melihat arlogi yang menggelang ini, mampu membuat para pegiat seni bagian teater di Kudus ini serempak bertanya; itu siapa, dia kenapa, dan menyatakan aneh-aneh saja. Ini sedikit mengherankan, pasalnya jika dikupas lebih tebal, biasanya orang-orang ini merasa cukup dan tak bertanggap lebih Ketika suatu tulisan tentang sebuah ulasan pertunjukan dikemukaan. Malah lebih sering abai tanpa tertarik untuk sekedar menge-klik link phosting yang tersedia, bahkan cenderung malas mengetahui persoalan genting dalam sebuah pertunjukan yang telah berakhir. Namun, ini ajaibnya teater. Ia mampu menghasilkan kebebalan, sekaligus mampu menambah beban. Xixixi. Bila kebebalan itu mutlak milik pemuda B, semoga beban itu bukan merupakan suatu bentuk dari orang-orang yang melewatkan suatu bacaan, bukan merupakan suatu bentuk dari orang-orang yang melewatkan suatu adegan pertunjukan, yang berdesakan dan berisik dan tidak sabar tepuk tangan, bukan merupakan bentuk dari orang-orang yang tak ngapa-ngapain dan menjawab “emboh” Ketika ditanya “pie pentas-e?” hhehehe. Semoga.

Fenomena Ketidak-terimaan Kawula Panggung

Atas Kerusakan Sikap Seekor Pemuda B

Menilik problematika gaduhnya Kudus dengan kerusakan sikap seekor pemuda B (yang sebenarnya bisa kita lupakan dalam sekejap saja. Tapi, hal-hal yang terkait etika, tak bisa dianggap angin lalu, kan?) yang comel dan menggemaskan ini, hampir saja membuat kita tidak mengingat betapa banyak Kesan dari para pengkarya Gadis Pingitan- sepaket dengan masa emasnya di Kudus Kulon yang Panjang diujar oleh para pendahulu kita. Kudus yang pelan-pelan menyingsingkan baju untuk beranjak dari hal-hal tabu ini membelai kita lewat kesenian yang membungkus kekayaan tradisi melalui visual-visual ciamik, cerita-cerita ikonik, dan diskusi-diskusi akademik berbasis bebas dan sangat terbatas demi mengalirkan generasi yang menghargai puing-puing Sejarah, laku tutur, dan pekerti manusia di kota tercintanya. Beberapa dari kita sering mengharap Panjang umur karya-karya itu dengan terus menerus membahasnya di pola panggung ketiga, atau sebuah resensi, atau abadi dalam dokumen zine kemudian mengarus dari mulut ke mulut, atau apa saja yang tentunya kita pikirkaan agar seni tak mati di kota sendiri- seni tak baik mati di kepala kita sendiri.

Dengan hadirnya banyak reaksi dari banyaknya Kawan-kawan pegiat seni bagian teater yang menanggapi bagaimana kemiringan logika sekaligus keruwetan pola pikir si pemuda B dalam tulisan tersebut di awal, ini seperti secara tidak langsung, sadar maupun tidak, kita semua hampir saja lupa diri sebagai para penonton yang ‘biasanya’ memetik keseriusan esensi yang dihasilkan dari sebuah pertunjukan, hampir saja luruh bersama lampu lakon yang meredup kemudian tepuk tangan dan beranjak pulang. Gadis Pingitan seolah memberi kita perasaan kalut, misterius, seolah tak mau terbahas terus, seakan berucap: “udah, masa ini tak butuh Batasan harga dalam diri, biar orang-orang berperilaku bebas tanpa dalih kurung, biar masing-masing kita merasa senang sekaligus derita disaat yang sama”. Agaknya, ini mengkhawatirkan. Alih-alih kita berupaya keras menyelami kearifan Gadis Pingitan, malah berakhir jadi salah focus pada kerusakan sikap seekor pemuda B yang menonton pertunjukan tanpa kesadaran bahwa dirinya juga seorang pelaku seni di kotanya sendiri.

Semoga lain hari, kita tidak termasuk dalam golongan pemuda B dengan seonggok kedunguannya itu. Aamiin. Hal, Panjang lebar (perilaku) yang kita telaah pelan-pelan itu tidak saja menampar kelompok pemuda B, tapi serta merta menabok kita semua, kau dan aku. Pasalnya, kemunculan persoalan rusaknya sikap pemuda B di khalayak ini secara tidak langsung menjadi alarm bagi kita semua bahwa: begitu pentingnya sebuah managerial panggung yang mampu mengantarkan penoton dalam batas normalnya, sekaligus memberi arah bagi pribadi kita untuk memberdayakan akal sehat dalam keramaian, dalam menonton pertunjukan, dalam berdampingan, dalam mengelola kesadaran diri, dalam melakukan aksi dan bersikap dengan hati-hati, apa lagi terkait perasaan, keberlangsungan relasi, dan kebermaknaan hidup yang filantropi. (ihhirrr)

Apapun itu, kehadiran pemuda B dan kisahnya, meninggalkan luka bagi banyak penikmat panggung (aku, dan kau juga, barangkali) yang mengganggu kekhusyukan kita dalam menelaah dan memadu-padankan bagaimana arif dan tenangnya Gadis Pingitan dengan kemeluk gedebusnya zaman yang berjalan. Namun, kendati kemanusiaan yang bebal dan beban ini terlanjur hinggap dan menodai keberlangsungan welas asih kita dalam Pembangunan fondasi adab kita—meski tak beres, dan tak kan pernah beres, baiknya kita berdoa, biar bebal dan beban itu berkurang, tak terulang, Syukur-syukur jika hilang. Semoga.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar