Folks

Gadis Pingitan : Sebelum Sempat Memilih

✍ Shazie Ramadhani - 📅 10 May 2026

Gadis Pingitan : Sebelum  Sempat Memilih
Shazie Ramadhani

Jujur, setelah nonton film dokumenter Gadis Pingitan yang digarap oleh Sakakarsa Pictures, saya nggak langsung bisa lanjut scrolling media sosial. Ada sesuatu yang menggantung. Bukan rasa sedih yang biasa, tapi semacam pertanyaan yang pelan-pelan tumbuh dan nggak mau pergi begitu saja.

Pertanyaan itu sederhana tapi nggak simpel: sebenarnya, siapa yang mendefinisikan pingitan?

Selama ini kita terbiasa menerima pingitan sebagai bagian dari masa lalu yang punya banyak kisah dan sudut pandang. Istilah itu terdengar penuh kehormatan, seolah-olah setiap tradisi yang diberi label itu otomatis punya nilai kebenaran yang nggak boleh diganggu gugat.

Tapi coba kita jujur sebentar, seberapa sering istilah itu kita pakai bukan untuk merayakan budaya, tapi untuk menutup percakapan yang sebenarnya perlu terjadi?

Mungkin film ini nggak mau ikut-ikutan tutup percakapan itu. Malah membukanya lebar-lebar, dengan cara yang sopan dan justru karena itu lebih menarik.

Tidak datang menghakimi. Kamera tidak datang sambil teriak "ini salah!" atau "tradisi ini harus dihapus!" justru berjalan perlahan, duduk bersama tokoh-tokohnya, dan membiarkan kita melihat sesuatu yang lebih rumit dari sekadar hitam-putih.

Ada cinta orang tua di sana. Ada kekhawatiran yang tulus. Ada keyakinan yang mungkin sudah diwariskan turun menurun. Bahwa menjaga berarti melindungi. Itu semua tampak nyata dan nggak bisa disepelekan begitu saja.

Tapi di saat yang sama, ada juga mata seorang gadis yang menatap dunia dari balik jendela. Tatapan itu penuh rasa ingin tahu yang nggak ada tanda-tanda mau berhenti. Dan tatapan itulah yang jadi jantung emosional film ini. Karena seperti mengingatkan kita bahwa di dalam setiap tradisi, ada manusia yang harus menjalaninya. Manusia yang punya mimpi, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk hadir penuh di dunia.

Saya mulai berpikir: apakah pingitan atau tradisi apapun yang membatasi gerak seseorang itu lahir dari hikmat, atau lahir dari rasa takut?

Rasa takut masyarakat pada perubahan. Rasa takut pada perempuan yang terlalu banyak bertanya. Rasa takut pada generasi yang ingin menentukan hidupnya sendiri.

Kalau begitu, apakah adil kalau kita terus menyebutnya "kearifan"?

Saya bukan bilang semua tradisi keliru. Sama sekali bukan. Tapi ada perbedaan besar antara tradisi yang tumbuh dari kesepakatan bersama dan tradisi yang tumbuh dari ketidakberdayaan satu pihak.

Film ini juga, tanpa banyak basa-basi, seperti menunjukkan sesuatu yang sebenarnya kita semua tahu tapi jarang mau akui: bahwa dunia terlalu sering membentuk orang sebelum orang itu sempat membentuk dirinya sendiri.

Lalu apakah film ini menawarkan solusi? Apakah ada adegan dramatis di mana sang tokoh bangkit, membuka pintu, dan melangkah bebas ke dunia luar?

Tidak. Dan menurut saya, justru di situlah kejujurannya. Gadis Pingitan tidak hadir sebagai manifesto atau pernyataan sikap. Muncul sebagai cermin.

Dan cermin yang baik tidak akan memperindah apa yang ada di depannya, hanya memperlihatkan apa adanya, dan membiarkan kita yang memutuskan apa yang ingin kita lakukan setelahnya.

Jadi balik lagi ke pertanyaan awal: siapa yang berhak mendefinisikan pingitan?

Mungkin bukan kita. Bukan pula masyarakat yang khawatir pada hal-hal yang terus berubah. Dan tentu saja bukan romantisasi budaya yang kita tawarkan ke dunia sebagai eksotisme yang indah.

Yang paling berhak mendefinisikannya adalah orang yang menjalaninya. Perempuan itu sendiri.

Karena kalau sebuah budaya nggak bisa mendengarkan suara dari orang yang paling terpengaruh olehnya, maka ia bukanlah kearifan. Ia hanyalah warisan yang belum pernah dipertanyakan.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar