Folks

Patologi Kebebalan di Lantai Dua: Surat Terbuka untuk Oknum Teater

✍ Elang Ade Iswara - 📅 10 May 2026

Patologi Kebebalan di Lantai Dua: Surat Terbuka untuk Oknum Teater
Elang Ade Iswara

Ada sebuah ironi yang memuakkan malam tadi, 09 Mei 2026 di Auditorium UMK. Di atas panggung, kita sedang berusaha merawat Gadis Pingitan, sebuah tradisi yang memudar dengan pemutaran dan pementasan teater oleh MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Kudus. Namun, di sela-sela kerja keras tim lighting yang menjaga fokus dan panitia yang memeras keringat demi kondusifitas, muncul sebuah anomali. Mari kita sebut ia Pemuda B. Di lantai dua, sebelah kanan panggung, tepat di samping meja operator lighting, kita justru menyaksikan lahirnya sebuah tradisi baru yang tumbuh: tradisi menjadi bebal dan arogan secara bersamaan.

Pemuda B ini adalah representasi sempurna dari apa yang terjadi jika kepercayaan diri yang meluap bertemu dengan logika yang mampet. Mari kita bedah kronologi kegilaan ini, agar sejarah mencatat betapa berjasanya sosok yang kita sebut Pemuda B ini dalam merusak suasana kerja. 

Babak I: Barikade Kursi dan Logika yang Lumpuh

Panitia MGMP dan Kelompok Teater Tiga Koma sudah memasang barikade. Kursi-kursi disusun bukan untuk pajangan, melainkan sebagai garis batas tegas: Ini area kerja. Ini wilayah teknis. Jangan masuk. Sebuah batas fisik yang jelas bagi mereka yang memiliki fungsi kognitif normal. Tapi bagi Pemuda B, kursi-kursi itu mungkin hanyalah instalasi seni yang mengundang untuk dilanggar.

Ia menyelonong masuk tanpa dosa. Seorang panitia perempuan dari Teater Tiga Koma, yang saya yakin sudah berada di ambang batas lelah setelah mengurus supaya berjalan dengan baik, tenang, dan nyaman— menyapanya dengan sangat sopan. "Mas, dari mana?” Pemuda B menjawab, “Dari Teater A.” Dibalas dengan sopan oleh panitia, “Oh, untuk Teater A di sebelah sana ya. Jangan di sini, nanti saya dimarahi."

Alih-alih sadar posisi, Pemuda B ini justru menunjukkan bakat akting pertamanya: menjadi patung. Ia bergeming. Berdiri di sana dengan kebebalan yang sudah mencapai level makrifat. Menolak mundur, menolak menghargai lelahnya panitia, dan seolah-olah merasa lantai dua Auditorium UMK adalah ruang tamu nenek moyangnya. Ia seolah-olah memiliki hak imunitas yang turun langsung dari langit, atau mungkin dari khayalan tentang betapa pentingnya posisi dia di muka bumi ini.

Babak II: Jurus Catut Nama yang Murahan

Melihat panitia perempuan tersebut diabaikan dan diremehkan, saya merasa perlu mengintervensi sebelum ketololannya menular. "Sorry Mas, ini untuk tim lighting dan pemutaran film," tegur saya, masih dengan sisa-sisa kesabaran.

Dan di sinilah puncaknya. Dengan keangkuhan yang meluap-luap, ia mengeluarkan pernyataan yang sepertinya ia anggap keren, padahal sangat menjijikkan: "Saya kenal semua orang di sini, coba saja bilang ke mereka, kalau perlu Pak G."

Oh, sungguh sebuah pencapaian! Sejak kapan mengenal seorang tokoh memberikan seseorang hak untuk menjadi sampah di ruang kerja orang lain? Apakah di kartu anggota Teater A tertulis klausul bahwa "Jika Anda kenal Pak G, Anda boleh menjadi bebal sesuka hati"? Jawaban saya singkat, "Nggak peduli. Mau kenal siapa pun? saya nggak peduli. Bahkan Anda kenal Ghibran pun saya tetap nggak peduli selama apa yang Anda lakukan tidak menghargai kerja-kerja orang lain," Karena di meja produksi, yang kita butuhkan adalah fungsi, bukan relasi.

Mari kita beri tepuk tangan untuk keberhasilan Pemuda B dalam mengenal orang. Namun, mari kita sampaikan sebuah kabar duka: mengenal seluruh isi gedung tidak memberimu hak untuk menjadi benalu bagi kerja teknis orang lain. Jika kau mengenal Pak G atau siapa pun tokoh besar yang kau catut namanya untuk menakuti panitia, seharusnya kau belajar satu hal mendasar dari mereka: Adab.

Babak III: Terus Lapo? dan Mahkota Ruwet

Ketika ditanya apa tujuannya di sana dan diingatkan bahwa tim butuh fokus, ia justru menjawab dengan kalimat paling dungu yang pernah saya dengar malam tadi dalam sebuah ekosistem seni: "Loh kan, sudah tak bilang, saya dari Teater A, terus lapo?"

"Terus lapo?" katanya. Saya sampai tidak sanggup menemukan kata-kata yang tepat untuk mewakili betapa dungunya ia. Sebab jawaban macam apa untuk pertanyaan yang sangat luar biasa bebalnya? Hei bung, kau itu sedang berdiri di area teknis saat film dokumenter akan diputar. Kau sedang mengganggu konsentrasi orang-orang yang sedang menjaga nyawa pementasan. Apakah itu yang diajarkan di Teater A? Menggunakan nama kelompok sebagai tameng untuk perilaku minim adab? Jika iya, sungguh malang nasib kelompok itu memiliki kader atau alumni dengan kualitas mental sepertimu.

Penasaran dengan relasi kuasa yang ia banggakan, saya bertanya pada Jambrong dan Kuncung, orang-orang yang memang punya hak bicara di area lighting. “Pak ini kawanmu?” Jawaban mereka adalah vonis final yang tak terbantahkan: "Jarno ae, cah ruwet iku." (Biarin saja, orang problematik dia). Sebuah legitimasi yang paripurna. Ketika orang-orang yang sedang bekerja menyebutmu "ruwet", itu bukan lagi kritik, itu adalah diagnosis medis atas perilaku sosial yang destruktif.

Di lantai dua kanan panggung itu, Pemuda B berdiri dengan kedungunan yang penuh bahwa ia adalah pusat semesta. Sungguh ironis; kita sedang menonton pementasan tentang tradisi yang memudar, sementara tepat di samping kita, ada manusia yang sedang memamerkan pudarnya tradisi menghargai sesama. 

Pertanyaannya kemudian, apa yang sebenarnya diajarkan di Teater A hingga melahirkan sosok yang merasa bisa menyelonong ke ruang privat tim produksi dengan narasi terus lapo? (terus kenapa?). Apakah teater A hanya mengajarkan cara berakting menjadi orang arogan tanpa sempat mengajarkan cara menjadi manusia yang menghargai ruang kolektif? Keangkuhan Pemuda B bukan hanya mencoreng wajahnya sendiri yang mungkin sudah sulit dibersihkan, tapi juga menyeret nama kelompoknya ke dalam kubangan sentimen negatif.

Dua belas tahun saya melihat, mengamati, dan bersinggungan dengan kerja-kerja kelompok teater. Selama lebih dari satu dekade itu, saya masih memegang teguh kepercayaan bahwa anak-anak teater adalah orang-orang yang paling menghargai proses, paling paham etika ruang, dan paling peka terhadap kerja keras orang lain.

Maka dari itu, tulisan ini adalah surat terbuka untuk Oknum Teater A yang kita sebut sebagai Pemuda B. Bukan untuk menyerang kelompoknya secara kolektif, karena saya percaya orang-orang di balik Teater A tidak sebebal itu. Saya percaya Teater A diisi oleh para kreator yang berakal budi.

Namun, kehadiran Pemuda B malam itu adalah tamparan bagi nama baik kalian. Bagaimana mungkin seorang yang berproses dalam kelompok teater justru menjadi parasit bagi ketertiban pementasan teater itu sendiri? Kebebalan jenis apa yang bercokol di kepalanya hingga ia merasa menjadi anggota sebuah kelompok memberinya hak untuk bertindak sewenang-wenang?

Jangan sampai akar yang kalian banggakan itu tumbuh salah arah: alih-alih menghujam ke bumi untuk memperkuat adab, malah merambat liar menjadi gulma yang mencekik kerja keras orang lain.

Jika Teater A adalah sebuah pohon, mungkin Pemuda B ini adalah jenis ulat bulu yang tersesat; kehadirannya tidak menambah rimbun, hanya bikin gatal semua orang. Kepada kawan-kawan di Teater A, tolong anggotanya dikasih asupan etika, atau paling tidak, kasih tahu dia bahwa "kenal Pak G" tidak otomatis membuat IQ-nya naik atau memberinya hak untuk jadi raja di kursi orang lain. Jangan sampai "A" yang kalian banggakan justru tumbuh merusak fondasi adab yang sudah dibangun susah payah oleh kawan-kawan yang lain. Terima Kasih.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar