Esai

Antara Ketulusan, Panggung, dan Godaan Kekuasaan

✍ Imam Khanafi - 📅 28 Apr 2026

Antara Ketulusan, Panggung, dan Godaan Kekuasaan
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

BEBERAPA waktu lalu, saya duduk di sebuah warung kopi sederhana di depan kampus Universitas Muria Kudus (UMK). Tempatnya biasa saja: kursi yang sedikit miring, kopi hitam yang cepat dingin, dan suara motor yang tak pernah benar-benar berhenti. Orang-orang bercakap dengan santai, seperti angin yang lewat tanpa ingin ditahan. Namun justru di ruang yang tampak sepele seperti itu, gagasan tentang kesenian sering lahir dengan paling jujur.

Saya duduk bersama beberapa kawan dengan obrolan yang tidak jauh dari hal yang sering dibicarakan dan sesekali kami tertawa kecil, tapi di balik tawa itu ada letih yang tak bisa disembunyikan.

Di tengah obrolan, salah satu kawan berkata pelan, seolah takut kata-katanya memantul terlalu keras. “Sekarang ini, teater di Kudus kadang bukan lagi soal karya. Tapi soal siapa yang dekat dengan siapa.” Kalimat itu membuat meja kami mendadak sunyi, seperti asap rokok yang tiba-tiba berhenti bergerak. Kopi tetap pahit, tetapi yang terasa lebih pahit adalah kenyataan yang menyelip di antara kami.

Kudus adalah kota kecil, tetapi lapisan sejarah budayanya tidak pernah tipis. Ia menyimpan tradisi, cerita rakyat, ritus keagamaan, hingga kehidupan industri yang membentuk wajah sosialnya hari ini. Teater seharusnya tumbuh sebagai ruang pertemuan semua itu: tempat masyarakat melihat dirinya sendiri, sekaligus melihat apa yang selama ini disembunyikan. Namun belakangan, teater seperti berjalan di dua jalur yang berbeda: satu menuju ketulusan berkesenian, satu lagi menuju panggung kekuasaan.

Teater Kudus sejatinya tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari masyarakat yang akrab dengan pertunjukan, dengan kisah-kisah yang diwariskan, dengan humor yang menyembuhkan, dan dengan kebiasaan berkumpul yang kuat. Di banyak tempat, teater menjadi cara warga menyuarakan sesuatu yang sulit diucapkan secara langsung. Ia bisa menjadi bahasa lain ketika kata-kata biasa terasa terlalu berbahaya atau terlalu memalukan untuk diucapkan.

Dalam beberapa pementasan, teater bekerja seperti cermin yang tak selalu nyaman. Ia memperlihatkan buruh yang bekerja tanpa jaminan layak, perempuan yang sering hanya dijadikan simbol, dan tradisi yang dipuja tetapi pelakunya dilupakan. Teater memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu, namun justru itulah fungsinya. Ia tidak selalu memberi jawaban, tetapi ia membuat kita pulang dengan pikiran yang tak lagi sama.

Istilah “seni berkesinian” sering dianggap hanya berarti modern atau kontemporer. Padahal, bagi Kudus, berkesinian bukan sekadar soal bentuk baru atau gaya eksperimental. Berkesinian yang sehat adalah kemampuan membaca zaman tanpa kehilangan akar. Ia seperti pohon yang tumbuh tinggi, tetapi tetap kuat karena akarnya menancap dalam.

Seni berkesinian bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, bahkan tanpa panggung megah. Ia bisa muncul lewat monolog sejarah lokal, teater jalanan di ruang publik, atau pertunjukan komunitas di desa-desa. Cerita rakyat bisa diolah menjadi naskah baru, kritik sosial bisa disampaikan lewat humor khas pesisir Jawa. Kadang yang dibutuhkan bukan fasilitas besar, melainkan satu hal yang paling sulit dijaga: kejujuran.

Teater Kudus yang sehat seharusnya berpihak pada manusia, bukan pada kepentingan. Ia boleh keras, tetapi tidak menghilangkan martabat. Ia boleh tajam, tetapi tidak menjadi alat fitnah. Teater seharusnya mengangkat orang kecil bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai manusia penuh harga diri.

Teater yang berkesinian juga semestinya menghidupkan tradisi, bukan sekadar memajangnya sebagai pajangan festival. Tradisi tidak cukup dipakai sebagai ornamen, lalu difoto dan dilupakan. Tradisi harus diajak berdialog dengan kenyataan hari ini, dengan luka dan perubahan zaman. Dengan begitu, tradisi tetap hidup, bukan sekadar menjadi kenangan.

Selain itu, teater Kudus membutuhkan ruang kolaborasi yang lebih luas. Kudus punya banyak potensi komunitas seni, tetapi sering kali masing-masing berjalan sendiri, bahkan saling menjatuhkan. Padahal teater tidak lahir dari kesendirian, ia lahir dari kerja kolektif. Ia akan kuat jika jejaringnya sehat: kampus, komunitas desa, seniman muda, hingga pelaku tradisi bisa berjalan bersama.

Teater yang baik juga mendidik tanpa menggurui. Ia tidak berubah menjadi ceramah, tetapi tetap meninggalkan bekas di batin penonton. Kadang bekas itu berupa tawa, kadang berupa sedih yang tak bisa dijelaskan. Teater yang kuat membuat penonton merasa disentuh, bukan digurui. Ia mengajak orang berpikir tanpa merasa dipaksa.

Namun ada kenyataan lain yang tak bisa dihindari. Dalam obrolan warung kopi itu, kami juga menyentuh hal yang lebih sensitif: fenomena seniman yang menjadikan seni sebagai tangga. Ada orang-orang yang mulai berubah ketika sadar seni bisa membuka akses pada uang, proyek, dan lingkar kekuasaan. Mereka mendekati pejabat, menempel pada tokoh politik, dan memanfaatkan event sebagai alat pencitraan.

Seni bagi mereka perlahan bergeser fungsi. Ia bukan lagi ruang pengabdian, melainkan alat negosiasi sosial. Mereka bicara tentang budaya, tapi diam-diam menghitung keuntungan. Mereka bicara tentang rakyat, tapi hanya muncul ketika ada proyek. Mereka bicara tentang teater, tetapi yang dikejar sebenarnya adalah kedekatan dengan dinas, sponsor, dan para penguasa.

Kalau mau jujur, hidup memang tidak selalu ideal. Tidak semua orang punya kemewahan untuk bertahan dalam kemurnian idealisme. Uang bukan musuh seni, dan profesionalisme justru perlu dihargai. Tetapi masalah muncul ketika seni kehilangan martabatnya, ketika karya dipakai untuk menjilat, pamer, dan menyingkirkan kawan sendiri.

Di situlah luka yang paling dalam muncul. Bukan luka pada panggung, tetapi luka pada persaudaraan. Yang tersingkir sering bukan mereka yang malas, melainkan mereka yang terlalu tulus. Mereka yang memilih jalan panjang, tetapi dipaksa melihat jalan itu semakin sepi.

Ada kawan-kawan yang latihan dengan sungguh-sungguh tanpa jaminan tampil. Ada yang menulis naskah tanpa bayaran, mengurus produksi dengan uang pribadi, dan mengajar adik-adik komunitas tanpa pamrih. Mereka hadir bukan untuk popularitas, tetapi untuk pengalaman artistik yang memperkaya. Namun ketika ruang tampil dikuasai oleh orang-orang yang dekat kekuasaan, mereka justru menjadi penonton di kota sendiri.

Lebih menyedihkan lagi, mereka sering dianggap tidak penting. Bukan karena kualitasnya lemah, tetapi karena aksesnya tidak ada. Event-event besar kadang memanggil nama yang itu-itu saja, bukan karena karya paling kuat, melainkan karena jaringan paling rapat. Teater akhirnya berubah menjadi arena kompetisi yang tidak sehat: bukan siapa yang paling matang berkarya, tetapi siapa yang paling pandai mendekat.

Jika kita ingin membaca situasi ini lebih dalam, beberapa teori seni dapat menjadi kacamata. Aristoteles misalnya, memandang teater sebagai mimesis tiruan kehidupan yang mampu menghadirkan katharsis, pembersihan emosi. Teater yang sehat membuat penonton menangis, tertawa, atau marah bukan karena gimmick, tetapi karena mereka melihat diri mereka sendiri di atas panggung. Ia membuat orang pulang dengan kesadaran baru, bukan sekadar hiburan kosong.

Plato memandang seni dari sisi moralitas. Baginya, seni seharusnya mengarah pada kebajikan dan kebaikan. Jika seni hanya menjadi alat propaganda atau panggung pencitraan, maka seni kehilangan fungsi moralnya. Ia tampak indah, tetapi sesungguhnya kosong nilai.

Tolstoy mengatakan seni adalah penularan perasaan. Seni yang tulus menularkan rasa solidaritas, rasa luka yang sama, dan harapan yang kolektif. Ia mempertemukan manusia dalam pengalaman emosional yang setara. Tetapi seni yang dipakai untuk ambisi pribadi hanya menularkan satu hal: kesombongan.

Maka penting untuk ditegaskan: teater tidak harus miskin. Seniman tidak harus menderita agar dianggap idealis. Teater yang profesional justru layak mendapat dukungan ekonomi yang layak. Tetapi teater yang sehat harus tahu batas: uang boleh hadir, namun keserakahan tidak boleh menjadi arah.

Teater Kudus yang berkesinian seharusnya berdiri di dua kaki. Kaki estetika, yaitu karya yang matang dan kuat. Kaki etika, yaitu nilai kemanusiaan yang dijaga. Jika salah satu kaki patah, teater akan pincang dan mudah jatuh.

Warung kopi di depan UMK hari itu mungkin tidak akan tercatat dalam sejarah seni Kudus. Namun percakapan di sana menyimpan sesuatu yang lebih penting daripada agenda festival: kesadaran bahwa teater Kudus sedang diuji. Ia diuji bukan karena kekurangan bakat, melainkan karena perebutan ruang, pengaruh, dan panggung sosial. Kudus sebenarnya tidak kekurangan seniman, Kudus hanya kekurangan ruang yang adil.

Jika teater Kudus ingin tumbuh dengan sehat, yang harus diperjuangkan bukan hanya panggung besar atau dana besar. Yang lebih penting adalah keberanian untuk menjaga martabat seni itu sendiri. Karena seni yang paling berharga bukan yang paling dekat dengan pejabat. Seni yang paling berharga adalah yang paling dekat dengan nurani.

Dan yang paling terluka bukan mereka yang kehilangan proyek. Yang paling terluka adalah kawan-kawan yang tetap setia berkarya, tetapi dipaksa menelan sunyi di kota sendiri. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar