Festival Teater Jakarta 2025 sudah selesai. Para pemenang telah diumumkan; piala dan penghargaan sudah diserahkan. Panggung digulung, lampu-lampu dipadamkan. Para aktor menanggalkan kostum dan kembali menjadi diri mereka yang sehari-hari. Para penonton pun telah pulang, membawa sisa gema dari pertunjukan dalam diri mereka. Yang tersisa kini hanyalah ruang kosong dan keheningan setelah riuh rendah itu; sebuah ruang yang justru membuka kesempatan untuk membaca kembali apa yang sebenarnya terjadi selama festival berlangsung.
Ada banyak hal menarik yang saya catat, bukan hanya tentang pertunjukan yang tersaji di atas panggung, tetapi juga soal hal-hal di sekitarnya, semisal tentang tema “Restart” yang menjadi payung kuratorial FTJ tahun ini dan bagaimana ia diterjemahkan ke dalam praktik, atau keputusan memindahkan lokasi festival ke Gedung Kesenian Jakarta alih-alih di Taman Ismail Marzuki sebagaimana tradisi sebelumnya. Namun catatan-catatan itu akan saya tulis nanti secara tersendiri.
Kali ini, saya ingin memulai dari sesuatu yang sering luput dibicarakan, tetapi justru menentukan atmosfer festival itu sendiri, yaitu, penonton. Siapakah sebenarnya penonton FTJ? Dari mana mereka datang, dengan ekspektasi macam apa, dan bagaimana posisi mereka di tengah perubahan wajah teater Jakarta hari ini?
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, selama 15 hari pertunjukan berlangsung, kursi penonton di Gedung Kesenian Jakarta hampir selalu penuh terisi. Bahkan pada malam-malam yang berhujan sekalipun. Ada sesuatu yang menghangat di ruang itu; semacam kerinduan kolektif untuk kembali berkumpul, untuk mengalami peristiwa-peristiwa yang disajikan di atas panggung. Situasi ini menunjukkan bahwa FTJ masih memiliki daya magnet yang kuat bagi publik teater Jakarta. Mungkin bukan semata karena kualitas pertunjukannya, tetapi karena festival ini telah menjadi semacam ritus tahunan, tempat orang-orang teater datang menonton, sekaligus memastikan bahwa mereka masih menjadi bagian dari denyut itu.
Kepadatan penonton itu menciptakan suasana yang khas: ruang yang ramai namun intim, penuh obrolan, desas-desus, gosip dan tatapan yang berlapis antara para penonton dan penonton lainnya dan antara penonton dan panggung yang ditonton. Setiap malam, FTJ terasa seperti perayaan kecil yang melampaui pertunjukan itu sendiri.
Pertanyaan tentang siapakah sebenarnya penonton FTJ ini bukan sekadar soal jumlah kursi yang terisi atau siapa saja nama-nama mereka. Ia menyentuh persoalan yang lebih dalam, yaitu, untuk siapa festival ini diadakan, dan bagaimana posisi penonton di dalamnya? Jika FTJ dimaksudkan sebagai cermin perkembangan teater Jakarta, maka penontonnya pun bagian dari refleksi itu. Mereka bukan sekadar saksi, tetapi juga kontributor makna, karena tanpa tatapan, tubuh di panggung kehilangan konteks sosialnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, penonton FTJ tampak terbagi ke dalam beberapa lapisan. Ada komunitas teater yang datang dengan intensi belajar dan membandingkan, di mana mereka menonton dengan mata pelaku, bukan sekadar penikmat. Ada juga kalangan akademik dan jurnalis yang hadir dengan kerangka analisis tertentu, menjadikan pertunjukan sebagai bahan baca situasi kesenian kota. Lalu ada penonton umum; mereka yang mungkin tertarik oleh nama besar festival, mencari hiburan, sekedar ingin tahu atau ingin mengalami pengalaman kultural sesaat.
Namun di sisi lain, ada juga penonton yang datang sebagai pencari pengalaman; mereka yang menonton untuk merasakan sesuatu yang berbeda, untuk mencari semacam pengalaman artistik melalui pertunjukan yang dihadirkan, atau bahkan pengalaman yang bersifat spiritual. Penonton jenis ini hadir dengan kesiapan yang lain. Di hadapan mereka, teater menjadi semacam makanan batin; sesuatu yang mengisi relung jiwa. Mereka datang bukan karena nama besar kelompok atau reputasi festival, tetapi karena keyakinan bahwa setiap pertunjukan menyimpan kemungkinan untuk menyentuh sesuatu yang personal dalam diri mereka.
Namun di balik keberagaman itu, muncul satu pola menarik: penonton FTJ kerap menjadi bagian dari ekosistem yang menonton dirinya sendiri. Banyak yang datang bukan hanya untuk melihat karya, tetapi juga untuk dilihat; untuk hadir dalam jejaring sosial teater yang mempertemukan pelaku, pengamat, dan pembuat kebijakan. Dalam konteks ini, FTJ bekerja bukan hanya sebagai ruang pertunjukan, melainkan juga sebagai arena sosial, tempat para seniman teater saling mengukur posisi dan relevansinya.
Pertanyaan tentang “siapa penonton FTJ” tak bisa dijawab dengan kategori demografis, melainkan harus dibaca sebagai persoalan performatif: bagaimana penonton menempatkan dirinya dalam peristiwa teater. Karena di FTJ, penonton tak pernah benar-benar pasif; ia ikut bermain dalam dramaturgi festival itu sendiri, menjadi bagian dari pertunjukan yang lebih besar: pertunjukan tentang teater Jakarta yang sedang menonton dirinya sendiri.
Dalam setiap festival, penonton bukan hanya pihak yang menerima pertunjukan, melainkan juga kekuatan yang menentukan bagaimana pertunjukan itu dibaca, diingat, bahkan dinilai. Di FTJ, tatapan penonton sering kali bekerja seperti semacam mekanisme legitimasi. Sebuah karya bisa tampak “berhasil” atau “gagal” bukan semata karena kekuatan artistiknya, tetapi karena bagaimana ia diterima di ruang sosial festival itu sendiri. Tepuk tangan yang panjang, reaksi tawa atau diam, unggahan media sosial, hingga percakapan-percakapan kecil di warung FTJ atau teras GKJ; semuanya membentuk sistem nilai yang tak tertulis, tapi sangat menentukan arah persepsi publik terhadap teater hari ini.
Tatapan penonton FTJ, dengan demikian, mengandung dimensi kuasa. Ia tidak hanya melihat, tapi juga mengatur apa yang layak disebut “baik”, “eksperimental”, “gagal”, atau “berani”. Dalam ruang festival yang serba terbatas, setiap karya tampil di bawah tekanan pandangan kolektif ini; pandangan yang datang dari sesama pelaku, kritikus, penonton setia, dan jaringan institusional yang melekat pada festival. Dengan kata lain, panggung FTJ tidak hanya menampilkan pertunjukan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana teater menatap dirinya sendiri melalui mata orang lain.
Namun di sisi lain, relasi ini tidak bersifat tunggal. Ada juga momen-momen ketika karya justru berhasil menggeser arah tatapan itu, membuat penonton kehilangan pijakan kategorinya. Ketika itu terjadi, ketika penonton berhenti menilai dan mulai merasakan, ketika mereka terseret ke dalam wilayah yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan; di situlah kuasa berpindah: dari penonton kepada pertunjukan. Di momen-momen seperti itulah teater menemukan alasan keberadaannya yang paling purba, yaitu pertemuan antara tubuh yang tampil dan tatapan yang terguncang.
Relasi antara panggung dan penonton di FTJ 2025 memperlihatkan dinamika ini secara jelas. Ada pertunjukan yang kuat justru karena berani menantang ekspektasi penontonnya, bukan karena tunduk pada selera festival. Ada pula karya yang terasa aman, teratur, rapi, tapi kehilangan denyut karena terlalu ingin disukai. Membaca FTJ tak cukup dengan menilai kualitas karya, tapi juga bagaimana setiap karya menegosiasikan hubungannya dengan tatapan publiknya. Sebab di festival seperti ini, penonton adalah bagian dari dramaturgi, bukan sekadar pelengkap pertunjukan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar