Esai

Suara Pelajar dalam Membaca Masyarakat Hiperrealitas

✍ Ahmad Safrudin - πŸ“… 04 Dec 2025

Suara Pelajar dalam Membaca Masyarakat Hiperrealitas
Ahmad Safrudin

Oleh Ahmad Safrudin , Ahmad Safrudin atau dikenal dengan nama panggung Mophet sK lahir di Kudus, 19 Juli 1983. Sejak tahun 1996 berproses kreatif...

Pementasan terbaru Teater Tutur Marjuki bertajuk β€œP Info” menghadirkan sebuah eksplorasi teater fragmentasi yang dikonstruksi melalui medium proscenium pada gelaran Parade Kost Pak Uger di AUditorium UMK 12 Desember 2025. Memakai bingkai panggung konvensional, pertunjukan ini mengekspresikan kegelisahan generasi pelajar terhadap dunia pasca-digital yang penuh tiruan, distorsi, dan derasnya informasi yang berlipat-lipat.

Menggabungkan beragam fragmen dari naskah drama klasik maupun kontemporer, P Info dirangkai sebagai sebuah kolase parodi: lucu, dan ironis, tidak ada alur linear, tidak ada tokoh yang benar-benar stabil, dari keberantakan itulah kita menyoroti masyarakat hiperrealitas masa kini.


Proscenium sebagai Layar Simulasi

Di tangan Teater Tutur Marjuki, panggung proscenium diubah menjadi metafora ruang digital: sebuah β€œbingkai” yang mengatur apa yang boleh terlihat dan apa yang disembunyikan. Sang tokoh asyik berinteraksi dengan layar atau bot raksasa. Lalu panggung diubah menjadi bayangan layar raksasa di mana para aktor bergerak seperti karakter yang terjebak di dalam feed, digulirkan oleh kekuatan yang tak terlihat. Diletakkan seperti notifikasiβ€”muncul tiba-tiba, padam tiba-tibaβ€”menciptakan ritme yang menyerupai pengalaman berselancar di media sosial. Penonton diajak mengalami sensasi β€œmelihat versi panggung dari dunia yang selalu meminta untuk dilihat.”


Cara Belajar Membaca Dunia yang Retak

Sebagai kelompok yang beranggotakan para pelajar dari SMP 4 dan umum, Teater Tutur Marjuki mengeksekusi fragmentasi menjadi teknik artistik, disertai dengan sikap membaca zaman. Setiap fragmen drama yang diambil diproses menjadi tafsir baru dari proses inteprasi naskah FTP kemarin. Dialog tragedi klasik diolah menjadi meme panggung. Potongan realisme berubah menjadi satire tentang online persona. Adegan absurd Beckettian dipadukan dengan obrolan warung kopi ala Gen Z.

Hasilnya adalah panggung yang terus berubah bentuk, mengingatkan penonton bahwa dunia digital tidak pernah benar-benar diam, tidak pernah utuh.


Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar