Esai

Peradaban 4.0 Sedulur Papat Limo Pancer

✍ Ahmad Safrudin - 📅 05 Aug 2023

Peradaban 4.0 Sedulur Papat Limo Pancer
Ahmad Safrudin

Oleh Ahmad Safrudin , Ahmad Safrudin atau dikenal dengan nama panggung Mophet sK lahir di Kudus, 19 Juli 1983. Sejak tahun 1996 berproses kreatif...

Dimulai dengan satu renungan dari seorang pemikir Jerman, Walter Benjamin. Alkisah, Malaikat sejarah berdiri menatap masa silam. Mulutnya menganga, matanya membelalak, sayapnya terentang. Apa yang kita lihat sebagai arus peristiwa bagi Malaikat sejarah adalah arus malapetaka dengan puing-puing yang bertumpuk. Malaikat sejarah ingin membangunkan orang-orang mati dan menyatukan kembali puing-puing yang berserakan. Tapi angin dari surga bertiup kencang, sayapnya terentang terus sehingga tidak bisa mengatup saking kencangnya badai itu. Dan badai itu melempar dia ke masa depan, tempat punggungnya itu membelakang. Sementara dihadapannya puing-puing semakin menggunung. Ini adalah renungan tentang kemajuan, ironi kemajuan.

Malaikat sejarah ini sangat berbeda dengan manusia kemajuan. Manusia kemajuan itu sayapnya juga terentang, tapi dia terbang lempang menembus awan setinggi-tingginya menuju masa depan yang seolah tanpa batas. Lalu dari ketinggian, dia menatap mencari tempat berpijak di bumi untuk menurunkan keabadian sehingga menjadi konkrit di muka bumi. Nah manusia kemajuan ini dengan sangat tepat muncul di dalam puisi Sutan Takdir Ali Syahbana yang terbit tahun 1991. Sub-spesia eternalitas. Artinya cara pandang universal objektif dari ketinggian. Ini melambangkan ilmu dan teknologi. Sudah sejak awal peradaban, ilmu dan teknologi diterima sebagai sesuatu yang sangat berharga tetapi tidak mudah diperoleh dan bahkan sumbernya adalah para dewa.

Di tanah Sunda, ada satu cerita pantun judulnya Lutung Kasarung sekarang menjadi cerita rakyat. Tapi dulu itu adalah pantun paling keramat, pantun paling suci karena menceritakan budaya huma, lahirnya asal usul budaya huma, terutama teknologi padi, teknologi pangan. Sumbernya adalah Sunan Ambu, Dewi Ibu, penguasa kayangan, yang menyerahkan pengetahuan tentang teknologi huma ini kepada seorang putri Purbasari di bumi yang sedang menderita dan terusir dari kerajaan dan terkena sihir sehingga menjadi buruk rupa. Sunan Ambu mengajarkan cara bertanam padi sampai kemudian ditanak. Dengan bantuan seorang dewa yang sedang terasing dari kayangan berhasil menyejahterakan rakyat sekitar.

Ribuan tahun sebelum itu Dewi Inana dari Sumeria mengajak ayahnya Dewa Enki, Dewa kebijakan untuk minum – minum arak. Dalam keadaan mabuk, Dewa Enki ini menyerahkan anugerah peradaban kepada putrinya Dewi Inana. Setelah sadar, hilang mabuknya, dia kaget telah menyerahkan pola peradaban yang isinya adalah pola ilmu dan teknologi dan seluruh pengetahuan Sumeria. Maka dia minta kembali tapi Dewi Inana tidak memberikan. Dewi Inana mau memberikan itu kepada manusia. Dewa Enki akhirnya tidak bisa apa-apa.

Ingat juga kisah Prometheus yang dirantai ke batu sepanjang masa yang entah sampai kapan. Mengapa? Karena dia mencuri api dari kuil Zeus dan menyerahkan kepada manusia. Api bukan sekedar api. Dari api manusia belajar segala macam. Revolusi kimia yang pertama adalah penemuan api. Prometheus menderita tapi dia tidak menyesal. Dia bilang, dengan api manusia keluar dari hidup bergerombol di dalam gua seperti semut dan menemukan macam-macam pengetahuan. Ada banyak mitos tentang ilmu dan teknologi yang memperlihatkan dua hal ini, bukan perihal yang mudah diperoleh. Dan bahkan para dewa itu tampaknya tidak percaya bahwa manusia itu cukup bijak untuk memiliki ilmu dan teknologi. Tapi faktanya, peradaban berkembang. Ilmu, teknologi, aneka kepercayaan, seni budaya, merupakan pilar yang membuat peradaban lahir, tumbuh, berkembang.

Peradaban asal katanya adab dari bahasa Arab artinya tutur yang santun, budi pekerti, dan juga berarti sastrawi. Dari situ turun peradaban. Dalam bahasa-bahasa barat, Civilization akarnya sedikit berbeda karena ada aspek politik di situ. Civis. Nah ini kita tahu Civic, pengetahuan tentang hidup bersama sebagai warga negara. Persis ini kata Civilization turun dari pengertian ini. Bahwa orang hidup dalam suatu negara waktu itu masih negara kota. Dan karena hidup di negara, dia tidak hidup di hutan rimba dengan hukum rimba yang bisa sewenang-wenang mengikuti nalurinya. Tapi dia hidup menurut tatanan hukum, tata politik, dan karena itu dia menjadi civilized, menjadi beradab. Kita tahu sejarah yang sangat panjang, Kebudayaan dan peradaban ini berlangsung berabad – abad.

Para pemikir abad ke-18 itu tidak membedakan antara peradaban dan kebudayaan, sering dipakai campur aduk. Kebudayaan itu adalah hasil belajar manusia, pengejawantahan nilai – nilai ilmu, agama, teknologi, berbagai pemikiran. Dan peradaban menunjukkan buah dari hasil belajar ini. Tapi peradaban juga sering dipakai untuk menunjukkan tingkatan. Yang memperlihatkan pola perkembangan manusia, mulai dari prasejarah, masuk ke sejarah, sampai ke tahap maju. Di sini bedanya, peradaban mengandung penilaian, sementara kebudayaan tidak selalu mengandung penilaian. Dalam arti yang normatif, dan evaluatif ini, peradaban punya tahap – tahapan. Maka ada peradaban primitif, madya, maju. Kita sekarang ada di dalam tahap industri ke-4, dicirikan dengan kecerdasan buatan dan data raya (big data). Tapi hubungannya tidak selalu sesederhana itu. Kebudayaan juga dilihat sebagai upaya manusia melawan determinisme alam. Kita masuk ke air, tenggelam, karena bukan ikan. Tapi kita belajar, berenang. Nah, ini adalah kebudayaan yang kemudian mengatasi alam.

Hubungan antara peradaban dan kebudayaan ini sangat rumit, terutama karena manusia ada di dalamnya. Dan pertanyaan tentang manusia sudah ada di jantung peradaban sejak awal. Siapa dan apakah kita? Tidak mudah menjawab, apakah manusia? Bagaimana dia harus bertindak? Di tengah konflik, di tengah tragedi, di tengah drama kehidupan. Syukurlah manusia lahir belum selesai, maka ia harus menyelesaikan dirinya sendiri. Syukurlah manusia itu terbuat dari lempung, sehingga ia lentur bisa dibentuk. Pendidikan adalah proses pembentukan ini. Di barat, ide tentang kemanusiaan itu sudah ada zaman Plato, Sokrates. Di timur, ada Confucius, ada Siddharta Buddha Gautama. Para pemikir Islam terlibat dalam pertanyaan-pertanyaan tentang manusia dan peradaban.

Kita kembali ke di barat dulu. Puncak pemikiran tentang manusia dan kemanusiaan itu terjadi pada masa yang dinamakan kemudian dalam sejarah masa Renaissance. Abad ke-15, 16. Mengapa? Karena perguruan tinggi – perguruan tinggi waktu itu disebut Universitas di Eropa mengajarkan pengetahuan profesi akademik, tetapi pertanyaan – pertanyaan tentang manusia, sastra, budaya itu tidak diberikan. Padahal ketika naskah – naskah kuno kembali ditemukan, terutama pemikiran Yunani dan Romawi waktu itu, terlihatlah betapa pentingnya membaca sastra, sejarah, filsafat. Mengapa? Karena di dalam sastra, orang diajak bertemu dengan kisah tentang manusia, penderitaannya, hidup dan mati, pilihan-pilihan yang tidak selalu tegas. Dan sastra mengajarkan orang berbicara dengan fasih. Keyakinan para humanis, mereka menyebut ini studi humanitatis, keyakinan yang waktu itu adalah seni bicara, seni bahasa akan menggerakkan seni pemikiran. Sehingga orang dapat mengumukakan ide-idenya dengan tepat, santun dan betul. Tidak ada inovasi tanpa bahasa yang tepat, itu keyakinan mereka. Maka ide humanisme itu tumbuh di sini.

Ide ini kemudian kita tahu abad ke 16-17 berjalan dengan revolusi ilmu. Seabad kemudian, revolusi industri. Jadi ilmu, teknologi, lalu ada ide tentang manusia yang santun, yang terpelajar. Ini semua bergabung dan melahirkan gagasan tentang kemajuan. Setiap kebudayaan punya ide tentang kemajuan. Tapi di Eropa, Ide tentang kemajuan, ini menggaung luar biasa kencang pada abad ke-18 yang disebut abad pencerahan. Melalui ilmu dan terutama teknologi, manusia akan maju dan maju lurus ke depan. Gagasan tentang kemajuan juga mengakar pada agama-agama Abrahamic. Islam, Kristen, Katolik, Yahudi. Waktu yang bersifat lurus ke depan. Sangat dipengaruhi oleh agama-agama Abrahamic. Kalau diringkas sebelum nanti masuk persis ke ide-ide dasarnya.

Kata kemajuan itu muncul dalam sejarah pemikiran melalui pemikiran Francis Bacon yang sangat cerdik. Di Inggris, di tengah perang agama, dia ini kasmaran pada ilmu. Waktu itu belum terlalu berkembang. Tapi dia tahu bahwa ilmu dan teknologi yang bisa membebaskan manusia dari takhayul. Dari ikatan pada alam. Dari otoritarianisme. Maka dia mencari cara dan mengambil teologi. Satu kata yang dia ambil ini sangat bermakna. Kita tahu kisah kejatuhan manusia. Demikian disebut dosa Adam dan Hawa. Tapi bagi Francis Bacon ; Dengan kening berpeluh, untuk mencari makananmu, mencari rejekimu, oleh Francis Bacon itu dia katakan ini bukan hukuman Tuhan. Ini bukan sanksi. Ini adalah janji keselamatan. Dengan kening berpeluh, dengan pemikiran, orang akan mendapatkan dan mengejar ilmu dan teknologi untuk mensejahterakan, mendapat keselamatan di dunia ini. Keselamatan material. Jadi dia melihat ada keselamatan spiritual di akhir zaman. Dia turunkan ide eskatologis ini. Dia turunkan ke dunia ini. Dia konkritkan melalui ide.

Waktu itu masih berupa ide-nya adalah sains terapan dan teknik rekayasa. Dia turunkan dan membuka jalan bagi kemajuan keselamatan material di dunia. Karena itu yang ada di bawah kendali manusia. Keselamatan spiritual itu di akhir zaman itu urusan ilahi. Tidak ada dalam kendali manusia. Jadi sudah lah. Maka dosa Adam dan Hawa itu dalam tradisi agama-agama, terutama agama kristiani. Dosa yang menguntungkan, karena dari situ manusia punya peluang mengembangkan dirinya secara mandiri. Nah Francis Bacon ini, ide nya ini bergema pada abad ke 18. The Royal Society of London itu berdiri dari ide-ide nya Francis Bacon.

Kalau kita bicara tentang ide kemajuan, ada satu tokoh yang menyebut dirinya Newton dari Prancis, yaitu Simon Laplace. “Bayangkan suatu kecerdasan,” dia tidak menyebut manusia, “bayangkan suatu kecerdasan yang pada saat tertentu dapat mengetahui semua daya yang menggerakkan alam dan kedudukan semua wujud yang menyusun alam. Jika kecerdasannya juga cukup besar untuk menganalisis data itu, ia akan merangkul dalam satu rumusan tunggal pergerakan benda – benda di alam semesta, baik yang terbesar maupun atom-atom yang paling kecil. Bagi kecerdasan seperti itu, tidak ada yang tidak pasti dan masa depan seperti juga masa lalu akan hadir di depan hidungnya.” Ketika membaca ini lagi, tiba-tiba membayangkan mesin-mesin cerdas dan big data itu, data raya itu.

Andaian apa yang ada di belakang gagasan kemajuan? Ada tiga paling tidak, bahwa waktu bersifat lurus ke depan linear dan homogen. Linear artinya maju terus, homogen itu sama buat semua orang, hari, detik, jam, bulan, tahun, abad, sama semuanya. Maju ke depan. Waktu ini objektif, ada di luar diri manusia. Ide ini menyingkirkan waktu historis. Waktu yang kita alami yang terikat pada simbol-simbol kebudayaan kita. Tapi karena waktunya berorientasi ke depan, dia linear homogen, maka ide masa depan, keuntungan masa depan, kebaikan masa depan itu jauh lebih penting. Maka waktu linear homogen ini menggilas waktu historis. Contoh yang paling sederhana, pembangunan atas nama kebaikan terbanyak dan demi keuntungan masa depan, kalau pakai bahasa kapitalisme, disingkirkanlah situs-situs kebudayaan, hutan adat. Karena ini waktu historis, yang melekat tempat identitas individu maupun lokal budaya itu tumbuh di situ. Tapi tidak ada artinya, karena masa depan jauh lebih penting.

Yang kedua, andean bahwa umat manusia itu sama, paling tidak secara hakiki, dan dia akan bergerak ke arah kemajuan yang sama. Dan model kemajuan itu disebut Nalar. Rasionalitas dalam bidang seni dan lain- lain. Intinya, pertama-tama ada ide bahwa Nalar itu telah menggerakkan bangsa-bangsa Eropa mencapai peradaban yang tinggi dan nanti bangsa-bangsa lain akan ikut. Jadi ada konsepsi yang sangat pasti deterministik tentang realitas. Andaian bahwa dunia dapat dan harus diubah. Tersirat keyakinan bahwa kita manusia mengenali kemanusiaannya kalau dia justru bisa membedakan diri dari alam. Ini terdengar mulia, tapi tentu banyak kritik. Saya tidak mungkin mengulah semua kritik ini di sini, tapi saya harus menyebutkan. Karena apa? Kalau tidak saya tidak jujur bahwa pemikiran itu, ada kritiknya itu kan harus disampaikan. Nah salah satu kritik yang relevan yang kita bisa angkat sekarang adalah bahwa orang tidak dapat menilai kebudayaan yang begitu beragam di seluruh dunia dengan kebudayaan yang lain. Karena apa? Kalau tidak yang muncul adalah gagasan bahwa Eropa maju sementara kebudayaan yang lain itu masih primitif. Ada bahaya melihat sejarah dari kejauhan, lalu melihat kemajuan dari kejauhan itu ada bahaya. Bahayanya adalah, tadi sudah saya beri contoh, kekejian kekejian kecil itu kita abaikan.

Para pemikir kebudayaan pada abad ke-19 itu kebudayaan mulai memilah antara kebudayaan dan peradaban. Suatu bangsa harus dinilai berdasarkan kebudayaan yang bukan peradaban. Kebudayaan orang Indonesia yang berbeda dengan kebudayaan Eropa dan tidak bisa dinilai berdasarkan kebudayaan Yunani misalnya. Dengan cara ini, pembedaan ini, peradaban bisa menjadi kritik atas kebudayaan. Ketika suatu kebudayaan belum maju, belum memperlihatkan ciri-ciri beradab, maka peradaban akan mengoreksi melalui misi pemberadaban. Sebaliknya terjadi, kalau peradaban itu retak, sehingga kehilangan ciri-ciri kemanusiaan dan kebudayaannya, maka akan lahir kritik kebudayaan. Ini yang terjadi terutama yang pertama ketika orang- orang Eropa bertemu dengan penduduk pribumi. Di berbagai belahan dunia yang kemudian menjadi jajahan mereka. Orang Belanda datang ke Indonesia terutama karena maksud ekonomi pada mulanya. Tapi orang Inggris meninggalkan Inggris dan sampai ke Amerika dengan misi teologis. Tentu ada misi ekonomi. Tidak ada kolonialisme yang hanya sepenuhnya misi surgawi itu tidak ada.

Tentang yang surgawi ini ada sesuatu yang menarik. Mereka mencari dunia baru. Firdaus kedua yang dijanjikan oleh Tuhan dan mereka yakin itu akan terjelma di dunia ini. Maka lahirnya New England. Dari England menjadi New England. Inilah noktah yang dijanjikan Tuhan untuk menjadi kerajaan ilahi. Lalu bagaimana dengan penduduk pribumi? Ada orang Indian di situ. Mereka punya hipotesis yang menarik untuk mensahihkan ini. Penduduk pribumi, orang-orang Indian itu, mereka adalah bagian dari suku-suku Israel yang hilang ketika bangsa Asyur menyerang kerajaan Israel Utara. Artinya dibuatlah pensahihan. Maka orang-orang ini harus diberadabkan, dipertobatkan. Kenyataan bahwa pemberadaban itu dilakukan di atas jejak tempat orang-orang Indian itu menangis. Ini ungkapan bangsa Cherokee. Bahkan filsuf yang menulis on liberty tentang kebebasan, John Stuart Mill mengatakan, masyarakat barbar perlu ditaklukan dan dikuasai oleh orang asing demi kebaikan mereka sendiri. Orang-orang barbar tidak punya hak sebagai bangsa, kecuali hak untuk menerima perlakuan yang akan membuat mereka beradab. The white man’s burden, kata Rudyard Kipling. Orang kulit putih punya tanggung jawab memberadabkan bangsa-bangsa lain untuk mempercepat evolusinya. Inggris menerapkan social Imperialism. Perancis mengembangkan mission civilisatrice. Dan Hindia Belanda menerapkan Ethische Politiek. Tujuannya pemberadaban tadi, yang sebetulnya pensahihan atas kolonialisme.

Tapi kebudayaan adalah peta jerih payah manusia yang tidak terduga. Kebudayaan adalah gerbang menuju dunia-dunia yang mungkin. Jadi strategi politik pemerintah kolonial India Belanda untuk menghasilkan pamong peraja yang cukup cerdas, tapi tetap patuh pada pemerintah kolonial, ternyata menjadi strategi politik untuk menyiapkan kemerdekaan Indonesia di kalangan para kaum terpelajar muda. Tragisnya, ilmu dan teknologi terus berkembang di Eropa. Dan tragisnya, retak antara peradaban dan kebudayaan persis terjadi di Eropa. Dua perang dunia kedua memanfaatkan teknologi yang pada saat itu disebut canggih. Camp – camp konsentrasi. Mari kita renungkan sebentar. Bagaimana mungkin di rahim tempat lahirnya filsafat yang telah melahirkan nalar sampai ke tingkat subspecia eternititatis, yang objektif rasional dan patut ditiru, di sisi lain menghasilkan irasionalitas dan kebangkrutan moral di dalam politik sampai tingkat maut. Bagaimana bisa orang merancang dan melaksanakan dengan cara yang sangat ilmiah, terpandu secara teknologis, sangat rasional untuk membunuh jutaan orang di dalam tungku-tungku gas. Ketika diskursus humanisme, kemanusiaan universal yang menggema di Eropa sementara di kawasan kolonial terjadi perbudakan, perampasan hak tanah dan sebagainya, dan puncaknya pada perang dunia kedua.

Ketika humanisme yang begitu dibanggakan, berubah wujud menjadi ideologi bagi segolongan orang yang merasa paling berhak untuk memegang ideologi itu, terkuaklah potensi yang amat mengerikan. Kata kemanusiaan itu sangat licin. Jadi apa kemanusiaan itu? Nada muram ini tentu sama sekali tidak mengecilkan peran teknologi yang telah meningkatkan mutu hidup kita. Inilah yang disebut dengan paradoks teknologi. Dan paradoks bukan dikotomi atau terbelah. Paradoks itu tarikan. Antara satu kutub dengan kutub lain. Ada ajaran yang mengatakan, “Minus malum”, yang paling sedikit keburukannya itu terpaksa dipilih. Tapi leluhur kita di tanah Sunda mengajarkan yang disebut Siger Tengah. Siger Tengah itu, ini dua kutub. Siger Tengah itu pandangan yang lebih luas yang bisa melihat kedua kutub itu kemudian menjembatani. Simbol Siger Tengah, itu ada dalam riasan Pengantin Sunda yang kemudian di adaptasi juga di Jawa.

Dogma kemajuan teknologi yang deterministik. Humanisme yang penuh luka seperti itu tidak punya alasan untuk bangkit. Tahun 60-an muncul ide tentang humanisme baru. Prinsip-prinsip etis. Tapi teknologi tidak menunggu itu. Teknologi terus melesat dengan gemilang. Revolusi industri 4.0 semakin menekankan orientasi ke depan. Kalau perlu masa lalu ditinggalkan jauh-jauh di belakang. Yang berasal dari universitas tentu tahu orientasi ke masa depan itu sekarang menjadi titik. Salah satu titik paling penting dalam akreditasi. Visi- visinya berorientasi ke masa depan. Pokoknya lurus lempeng ke depan. Tentu saja masa depan sangat penting. Bidahanya untuk hidup masa kini. Namun kerendahan hati untuk mengakui bahwa masa depan itu tidak selalu bisa diramalkan dengan pasti. Lihat lembar kelam sejarah Eropa dan negara-negara lain. Yang begitu membanggakan rasionalitas dan humanisme. Apa yang terjadi?

Teknologi modern sudah ada sejak revolusi industri. Tapi jejak ekologis yang sekarang mempengaruhi seluruh planet baru kita ketahui pada pertengahan abad ke-20. Semakin maju teknologi, semakin kita berhadapan dengan satu masalah yang jarang sekali disebut yaitu transilmu. Ini dikemukakan oleh Alvin Weinberg.

Transilmu adalah masalah-masalah yang dimunculkan oleh ilmu dan teknologi. Tetapi solusinya tidak mungkin diselesaikan hanya oleh teknologi. Karena apa? Karena melibatkan nilai. Melibatkan hidup sosial manusia. Bahkan mungkin melibatkan kepercayaan teologis, kepercayaan agama. Jadi seruan kencang, pokoknya kita harus mengejar teknologi maju. Dan sekarang ini teknologi maju adalah teknologi digital. Artificial intelligence didukung oleh big data. Masuk akal, tapi tidak cukup. Nah kita akan masuk sedikit di sini secara singkat saja. Belakangan sudah disebutkan, banyak guru kaget karena chat GPT. Murid – Murid tinggal tanya, dijawab lalu bawa ke Google Translate. Tanpa perlu diapa – apakan lagi langsung PR terjawab semua. Masiswa bikin paper juga begitu. Bagi para pengembang teknologi kecerdasan buatan, chat GPT itu baru di titik paling awal. Karena apa? Karena roadmap dari artificial intelligence itu, mesin cerdas ini, itu bukan sekedar mesin cerdas. Tapi peralihan dari kecerdasan artificial menuju subjek artificial. Artinya, mau membentuk manusia.

Ada empat tahapan yang dikembangkangkan, pertama adalah kesadaran mesin tingkat satu. Dan ini mesin yang perilaku eksternalnya, itu di asosiasikan dengan kesadaran manusia. Kalau bahasa teknisnya, dia lolos uji turing. Artinya, kalau orang bertanya kepada mesin, bertanya kepada manusia, jawaban dari kedua- duanya ini begitu setara, begitu serupa, sehingga yang bertanya ini tidak bisa membedakan yang mana mesin, yang mana manusia. Tapi itu baru tingkat satu. Berikutnya kesadaran mesin tingkat dua, ini lebih canggih lagi, mesin dengan karakteristik kognitif yang di asosiasikan dengan adanya kesadaran. Jadi perkara algoritma, algoritma itu kalau dalam bahasa hanya sintaksis. Tapi mesin tidak punya kemampuan semantik memahami. Dia akan bisa mengatakan yang kita tanya, di mana nasi bakar yang paling enak? Dia akan cari semua data, lalu dia akan sebutkan. Tapi kalau kita tanya, tahu nggak sih apa rasanya nasi bakar yang enak? Mesin tidak tahu itu. Jadi semantik, apa itu sakit, apa itu demam, dia akan jawab. Tapi apa makna demam? Dia tidak tahu. Yang kedua ini memang masih secara teoritis. Tapi, sudah ada proyek-proyek rintisan yang disebut xenobot, living robots. Chips yang ditanam ke dalam embryo katak.

Yang ketiga, mesin dengan arsitekturalnya itu seperti otak manusia yang bisa menghasilkan kesadaran. Nah, tapi ini sangat rumit karena membutuhkan hukum-hukum psikofisis yang bahkan hukumnya saja belum terumuskan. Jadi, kita belum mengenali satu pun hukum yang bisa membangun arsitektur mesin yang menghasilkan seperti otak dengan kesadaran. Yang keempat, ini yang persis manusia. Cita-citanya adalah menghasilkan kesadaran mesin, sehingga mesin itu bisa mengerti apa rasanya menjadi mesin. Apa rasanya menjadi mesin yang cerdas. Bahkan kalau ditanya apa rasanya sedih, dia mengerti. Ini kesadaran sangat subjektif. Ini begitu sulit, tetapi menjadi cita-cita.

Kemungkinan ini membuat mesin bukan lagi sekedar alat. Kecerdasan artificial membuat mesin itu bukan kepanjangan tubuh kita. Menjadi mitra, pasangan kerja. Bagaimana memperlakukan mesin sebagai pasangan kerja? Apa pengaruh mesin terhadap manusia? Ini sudah muncul gerakan yang disebut transhumanisme. Ini bagian terakhir yang ini saya sampaikan. Transhumanisme. Apa itu transhumanisme? Transhumanisme adalah gerakan intelektual. Gerakan sosial, gerakan kultural. Yang mau mengedepankan pelampauan keterbatasan manusia berbasis dengan memanfaatkan teknologi. Tapi tidak cukup bahwa dia hanya mencapai atau melebihi kecerdasan mesin yang dia buat. Dia mau menjadi andainya para dewa. Cita- cita mereka dan ini sangat jelas mereka sampaikan. Pengandaian dasarnya sama dengan humanisme. Bahwa manusia itu lahir dan bahkan pada tahap ini evolusinya belum selesai. Dan evolusinya itu perlu terus ditingkatkan sampai ke pencapaian tertinggi. Dan pencapaian tertinggi adalah manusia berada di kawasan di mana penderitaan karena sakit dan kematian tidak lagi ada. Jadi keabadian berbasis teknologi. Ini gerakan transhumanisme. Manusianya, Anda boleh pilih. Mau menyebut diri kita sebetulnya masih manusia 1.0. Ini nanti adalah manusia 2.0 atau pasca manusia. Pasca manusia hidup lebih baik daripada manusia karena itu manusia harus di enhance. Ditingkatkan. Human enhancement. Teknologinya macam-macam chips dan sebagainya.

Tapi kita sedikit perlu membayangkan apakah nanti akan muncul feudalisme baru. Bangsawan 2.0, rakyat jelata 1.0. Kita ini bayangkan ketimpangan yang muncul antara negara maju. Dan negara-negara seperti kita yang kalau nanti belum maju begitu. Diskursusnya cukup kuat. Roda revolusi teknologi informasi dan revolusi bioteknologi. Ini kuncinya. Masa depan itu ada di dua itu. Dan kita tidak bisa kemudian, ah saya tidak mau. Di zaman serba teknologi kita perlu tanggap. Meskipun bukan ahli tapi kita mencoba mengerti dampaknya bagi manusia, bagi peradaban, bagi kebudayaan kita. Supaya apa? Supaya berani membuat pilihan. Perekonomianku kita tidak mungkin bebas dari ilmu dan teknologi yang mempengaruhi negara-negara lain. Tidak bisa. Meski begitu prioritas pilihan itu perlu. Menyangkut faktor-faktor yang paling dasar ini.


Pembicaraan tentang Artificial Intelligence, tentang Big Data sangat penting, sangat penting.

Diskusi isu Kebudayaan oleh Ahmad Safrudin (Mopet SK dalam perspektif SAMAR di Omah Pencu saat Upskilling dan Reskilling, Diklat Kompetensi Guru Vokasi Seni Teater oleh BBPPMPV Seni & Budaya. 31 Juli – 12 Agustus 2024.

Masyarakat itu membuat tenggorokan kita tercekat. Literasi digital kita masih gagap kecuali generasi milenial kesini. Dikalangan orang muda tapi itu pun tidak merata karena apa? Pemahaman kita tentang generasi milenial dan selanjutnya generasi Z itu sering terkecoh oleh survei. Tulisan di Jakarta Post mengutip satu sumber mengatakan hanya 14,4 persen generasi milenial Indonesia yang mengenyam pendidikan di atas sekolah menengah. Hanya 0,38 persen memiliki gelar sarjana. Bahkan di kota Jakarta, metropolitan, sekitar 25 persen laki-laki dan 38 persen perempuan berumur 20 sampai 34 tahun hanya memiliki ijasa sekolah menengah pertama atau lebih rendah. Statistik pemuda Indonesia BPS tahun 2020 menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia belum mampu mengeluarkan pemuda laki dan perempuan dari kemiskinan. Dan fakta pahit adalah angka kematian ibu yang termasuk tertinggi di Asia Tenggara sesudah laos. Korupsi saja kita belum mampu untuk lawan. Ini semua persoalan klasik. Masih ada beberapa yang lain, tuberculosis. Dimana kita? Untuk siapa industri 4.0 itu? Manusia seperti apa? Itu persoalan kemanusiaan. Janji umum tentang industri 4.0 bahwa hidup akan lebih baik, tentu saja percaya akan hal itu. Bagi mereka yang terlibat. Dan yang terlibat ini akan menyebabkan risiko kesenjangan itu makin besar antara yang berpendidikan dan tidak berpendidikan. Dan biaya peluang itu akan bertukar sehingga untuk kebutuhan dasar bisa saja digunakan untuk kebutuhan membeli barang teknologi. Sehingga semakin terjerembab ke dalam kemiskinan.

Teknologi penting, artificial intelligence sangat penting. Kita tidak bisa menyangkal itu. Pertanyaannya bagaimana rasionalitas teknologi yang dipandu oleh algoritma yang sangat ketat itu mempengaruhi kita? Manusia seperti apa yang akan kita ingin jadikan? Apa yang membimbing hasrat orang-orang muda? Apa yang diam-diam dia cita-citakan di tengah kemajuan teknologi digital? Media sosial kita lihat emosi yang begitu dipengaruhi. Kita perlu rendah hati mengakui bahwa teknologi dan para ahli teknologi. Morrison mengatakan dari Jerman ke Paris hanya dalam beberapa jam, singkat sekali. Tapi tidak dapat mengatakan, memberi anjuran, sebaiknya ngapain? Artinya tujuan itu berada di luar ranah ilmu dan teknologi.

Kita kembali ke kemanusiaan. Persis karena itu negara -negara maju, memasukkan ke dalam kurikulumnya, peralihan dari STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics menjadi STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Arts di sini dalam arti luas, bukan hanya seni, tapi seni budaya, sastra. Mungkin agak disayangkan, akhir -akhir ini justru di Indonesia kebijakan pendidikannya terbalik. Seakan – akan semua yang serba teknologi, serba aplikasi teknologi, itu akan menyelesaikan semua masalah pendidikan. Seni budaya, Humaniora diabaikan. Padahal Seni budaya, sastra, ajaran -ajaran keluhuran, apa dari agama, apa dari filsafat, apa dari kebijaksanaan, itu membantu kita menjadi peka. Dan kalau kita peka, kita bisa mengembangkan imaginasi civic. Bagaimana hidup bersama yang baik? Seperti dibayangkan oleh pemikir Eropa, Abad ke 18, Yang universal dari manusia adalah bahwa semua manusia bisa menderita. Semua manusia akan mati. Fakta kerapuhan, fakta kesengsaraan, ada berapa manusia terusir dari kampung halamannya sekarang ini.

Kendati Getir disitulah, sebetulnya masih ada harapan dengan orang -orang muda. Kita punya harapan besar pada orang -orang muda. Bersama orang -orang muda inilah kita ingin berbagi pengalaman sedikit dari tradisi leluhur Kita. Leluhur kita punya ide tentang kemajuan, punya ide tentang berpikir yang baik yang disebut rasionalitas. Tapi ide tentang kemajuan itu bukan lempeng. Karena masyarakat tradisional itu melihat waktu itu siklus, daur pagi, malam. Kemajuan itu dilihat sebagai spiral. Spiral itu dari satu titik, dia melingkar tapi lingkaran ini bukan daur mengulang lingkaran yang sama. Tapi makin tumbuh, makin mekar, makin besar, makin kompleks lingkarannya tapi tidak terlepas dari titik pusat. Titik pusat tidak ditinggalkan. Masa lalu, asal titik berangkat menjadi cermin dalam gerak spiral ini. Dalam tradisi mistik ada istilah “Sedulur papat”. Yang empat ini artinya apa? Empat arah mata angin yang melambangkan seluruh alam semesta. Pancer itu adalah tengahnya yang mencahayai semuanya.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar