Budaya patriarkis yang mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia seringkali tanpa disadari menjadi restriktif terhadap ekspresi yang disampaikan oleh diri sendiri. Patriarki yang menekan kuat terhadap perilaku dan etiket yang ditunjukkan oleh perempuan begitu mendalam hingga ajaran dan praktiknya terasa hadir secara alamiah. Melalui pertunjukan panggung teater Dejavu SMK Taman Siswa Kudus, penulis mengajak para penonton dan pembaca untuk merefleksikan simbolisme dan gestur mikroskopik yang tersampaikan di dalam pementasan tersebut (Anonim, 2025). Pertunjukan tersebut merupakan hasil adaptasi dari naskah karya Dicky Soemarno yang berjudul Argumentasi Sisi. Sebelum lebih jauh membahas terkait dengan refleksi atas pertunjukan dan pesan kritis yang disampaikan, perlu dipahami bahwa karya tersebut merupakan hasil kerja keras dari para siswa dalam rangka festival pelajar. Mulai dari sutradara, para aktornya, tim tata rias dan busana, lighting, dan lain sebagainya sepenuhnya dipenuhi perannya oleh para siswa. Pembinanya sendiri yaitu Dian Puspita Sari, S.Sn bekerjasama dengan timnya untuk dapat mengajak para penontonnya supaya berefleksi atas norma-norma sosial yang sifatnya mengikat dan mengakar kuat sejak anak-anak.
Pertunjukan tersebut dimulai dengan adanya adegan yang menggambarkan empat orang anak perempuan dengan pakaian yang sama yaitu berwarna putih. Keempatnya menari dengan penuh gemulai dan diakhiri dengan memeluk seorang perempuan tua memakai kebaya. Adegan tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan diawali dengan penuh harapan, termasuk keinginan untuk dapat menjalani hidup dengan baik dan memiliki hubungan yang erat dengan anak-anaknya. Kemudian, adegan selanjutnya, penonton disuguhkan dengan mulainya kemunculan konflik di tengah keluarga kecil tersebut.
Alur cerita fokus terhadap keluarga yang terdiri dari ibu, empat orang anak, dan asisten rumah tangga. Sepanjang pertunjukan, dapat terdengar dan terlihat bagaimana sosok ibu selalu berbicara dengan nada yang begitu tinggi dan kaku. Selain itu, postur tubuhnya juga begitu kaku dan seperti sedang membangun tembok secara mental untuk melindungi dirinya sendiri dari bahaya yang datangnya dari luar. Sementara itu, anak perempuan pertama yang di tengah pertunjukan dijelaskan bahwa dirinya telah menikah, menggunakan pakaian yang berbeda dan lebih sopan atau sesuai dengan aturan norma masyarakat yang ada. Kostum tersebut menggambarkan bagaimana anak pertama tersebut mengikuti aturan yang ada dan hidup dengan lebih layak.
Anak perempuan kedua menunjukkan sikap yang dilihat sebagai βrebelβ atau keluar dari aturan. Aspek ini terlihat begitu jelas dari sebelum kehadirannya, ibu sudah berbicara dengan nada tinggi dan memberikan kritik terkait dengan sikapnya. Terutama bagaimana anak tersebut tidak mengikuti tradisi atau acara keluarga dan lebih mementingkan kegiatannya di luar rumah. Konflik sudah mulai terlihat dalam adegan ini, bagaimana keduanya memiliki pandangan yang begitu berbeda dan anak tidak merasa takut untuk mengungkapkannya. Dalam sepanjang pertunjukan, anak tersebut juga selalu berbicara dengan nada yang tinggi kepada ibunya. Mereka selalu berbicara dengan nada yang sama-sama tingginya, menunjukkan bagaimana keduanya penuh dengan emosi dan perasaan yang terasa tidak mampu diungkapkan.
Sepanjang berjalannya pertunjukan tersebut, mulai terlihat bagaimana ketiga anak perempuan lainnya merasakan hal yang sama dengan anak yang dianggap membangkang ibunya tersebut. Akan tetapi, ketiganya memilih untuk memendam rasa tidak setuju dan tidak suka terhadap perilaku ibunya. Perbedaan sikap dan cara menanggapi tersebut yang menjadikan hubungan yang berjalan antara ibu dan keempat anaknya terlihat begitu dingin dan tidak dekat. Justru, asisten rumah tangga di rumah mereka yang lebih dekat dan mampu memahami anak-anak perempuan tersebut. Berkaitan dengan karakter asisten rumah tangga ini, terdapat perubahan antara naskah asli yang diadaptasi dengan pertunjukan. Di dalam naskah yang diadaptasi, asisten rumah tangga tersebut bernama Badut. Sementara dalam pertunjukan, presensinya yang lebih ditekankan. Kemudian, pertunjukan diakhiri dengan ibu tersebut ditinggalkan sendiri oleh anak-anak perempuannya maupun asisten rumah tangga yang telah menemani mereka selama ini.
Dalam pertunjukkan ini, begitu kental akan gambaran mengenai nilai patriarkis yang berakar kuat di tengah masyarakat. Bagaimana seorang perempuan dibatasi untuk dapat mengejar mimpi maupun keinginan yang mereka miliki. Meskipun ibu tersebut memiliki tujuan yang baik yaitu melindungi anak-anaknya agar tidak disakiti oleh laki-laki, tetapi sikap dan cara menganggapi perasaan takut tersebut yang justru menjadikan bumerang bagi hubungan mereka sendiri. Ibu memiliki trauma yang cukup mendalam dan disebabkan oleh suaminya, yang juga menjadi ayah dari anak-anaknya tersebut. Hubungan pernikahan tersebut kandas dan berakhir dalam perceraian karena mantan suaminya yang menyakiti dirinya hingga meninggalkan luka yang begitu mendalam.
Trauma yang dimiliki oleh ibu atas perlakuan laki-laki tersebut menjadikan dirinya overprotective terhadap anak-anak perempuannya. Ia memiliki ketakutan yang mendalam bahwa anaknya akan mengalami nasib yang sama, yaitu disakiti oleh laki-laki di luar sana yang mereka temui. Namun, cara ibu untuk menanggapi ketakutan tersebut dan melindungi anaknya, tetap terbukti membawa kesengsaraan bagi mereka. Anak pertamanya yang menikah dengan laki-laki yang dipilihkan oleh ibunya serta dianggap begitu baik, ternyata tidak merasa bahagia dengan kehidupan yang dijalaninya. Ia selama ini merasa tertekan dan tidak bahagia, tetapi takut untuk mengungkapkan perasaan tersebut.
Kedua anak perempuan yang sudah mulai beranjak dewasa, tidak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Mereka dikekang dan diatur sedemikian rupa untuk mengikuti aturan maupun norma yang ada. Kisah yang dialami oleh para karakter ini begitu kuat dan begitu relate dengan kehidupan perempuan saat ini. Meskipun perempuan sudah memiliki lebih banyak hak dan kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri, tetapi ada restriktif dan aturan tertentu yang hadir secara tidak tertulis untuk tetap dipatuhi (Luh et al., 2025). Misalnya, secara umum dan hukum, perempuan dapat pergi ke mana saja untuk mengampu pendidikan dan mengejar mimpinya. Namun, norma yang masih begitu melekat di masyarakat mengatakan bahwa perempuan tidak seharusnya mimpinya dengan tinggi. Dirinya masih harus menaruh harapan dan arti hidupnya atas eksistensi kaum laki-laki. Perempuan masih belum sepenuhnya bisa lepas dari norma yang mengikat, bahwa tubuhnya tidak dapat dimiliki oleh dirinya sendiri, tetapi juga masyarakat.
Norma yang begitu mengikat sejak lahir dan harus dipatuhi juga diamini oleh sutradara pertunjukan ini, Zakia. Melalui karya ini, Zakia menyampaikan bagaimana ia bersama dengan timnya mengungkapkan makna di balik pentas seni ini. Ia mengungkapkan bahwa etiket kaku begitu melekat sejak masa anak-anak dan tidak hanya dari perilaku sopan santun, tetapi juga sistem kontrol fisik (Anonim, 2025; Erwin, 2025; Tasmara, 2025). Seiring dengan berjalannya waktu dan zaman yang semakin berkembang, aturan-aturan lama yang mengikat dirasa sudah tidak lagi relevan. Bagaimana seharusnya sebagai manusia, sudah selayaknya melihat norma aturan yang berada di sekitarnya dengan lebih kritis.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar