Sejak zaman purba, manusia dan alam telah menjalin hubungan yang erat. Manusia bergantung pada alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk air, energi, makanan, udara, dan perlindungan. Sebagai imbalan, manusia bertanggung jawab menjaga alam agar tetap menyediakan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Hubungan keduanya sering menghasilkan interaksi yang kuat yang saling mendukung satu sama lain (Satyananda dkk., 2013). Interaksi ini sering kali menciptakan kearifan lokal yang memiliki dampak positif bagi kedua belah pihak. Sebagai contoh, suku Yali di pedalaman Papua sangat bergantung pada hutan dan mereka berusaha menjaganya agar tetap lestari. Mereka menyadari bahwa kerusakan hutan dapat mengancam pasokan makanan mereka (Milliken, 2002).
Kearifan lokal memiliki beragam bentuk dalam masyarakat setempat, salah satunya adalah yang berhubungan dengan konservasi alam (Purnawibowo, 2014). Sebagai contoh, suku Helong di Nusa Tenggara Timur memiliki aturan tradisional yang melarang orang memasuki mata air sakral, hanya pemimpin adat yang diizinkan untuk melakukannya selama ritual meminta hujan (Satyananda dkk., 2013). Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa mata air tersebut memiliki peran penting dalam siklus hidrologis, dan sungai-sungai yang berasal dari mata air ini menyediakan air untuk kehidupan sehari-hari masyarakat. Pembukaan akses bebas ke mata air ini dapat mengancam pencemaran dan akhirnya berdampak negatif pada suku Helong (Satyananda dkk., 2013). Menyadari dan memahami kearifan lokal yang berkaitan dengan konservasi dapat menjadi panduan untuk mempromosikan konservasi di berbagai wilayah. Konservasi yang berakar pada kearifan lokal cenderung lebih diterima oleh masyarakat setempat (Kuwati dkk., 2014).
Muria, dalam konteks ini, bukanlah sekadar entitas geografis atau administratif. Muria adalah alam dan manusia yang hidup di dalamnya, mewakili beragam peradaban. Dari sudut pandang geografis dan administratif, Muria terletak di tengah Segitiga Hijau, yang mencakup Kota Pati, Jepara, dan Kudus, semuanya berada di wilayah Jawa Tengah.
Artsotika Muria adalah usaha untuk menyelaraskan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan intelektual (IQ) dengan fokus pada kawasan Gunung Muria. Tujuannya adalah untuk merawat, melestarikan, memulihkan, dan mengembangkan potensi alam dan masyarakat di wilayah ini. Potensi eksotis Muria diwujudkan dalam bentuk seni.
Inisiatif ini juga mencakup upaya memulihkan budaya. Dari hasil diskusi di tiga kota, beberapa elemen penting telah hilang, seperti peninggalan sejarah, tradisi, seni, folklor, dan lainnya. Meskipun data belum lengkap, masyarakat yang peduli telah mulai bergerak. Jika sesuatu hilang dan tak terdokumentasi dengan baik, revitalisasi atau upaya serupa mungkin diperlukan.
Selanjutnya, penting untuk mengembangkan budaya dengan menjunjung nilai-nilai lokal. Seni Ketoprak Pati adalah contoh nyata yang bertahan karena didukung oleh masyarakat. Dengan menggali potensi lokal, kita dapat menjawab tantangan global dan, pasca era digital, kembali pada akar tradisi.
Dengan aksi nyata, dalam rangka merawat muria, Artsotika Muria 5 akan kembali digelar dengan mengangkat tema “Nyawiji Memetri Bumi Muria” yang artinya bersatu menjaga bumi Muria pada : 27, 28, 29 Oktober 2023 di Dk. Boro, Ds. Sitiluhur, Gembong, Pat Kabupaten Pati. Kami mengajak semua elemen masyarakat, khususnya seputar Muria, bersama-sama menjaga kelestarian, baik alam maupun budaya, alam meliputi: habitat, tanah, air, batu dan lainnya, sementara budaya meliputi: tradisi (gotong royong), sedekah bumi, foklor, situs, dan artefak. Melalui upaya-upaya merawat dan menjaga semoga Bumi Muria tetap lestari.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar