Agustus… Rela
Hidup ini bagaikan di meja perjudian dimana akan selalu ada yang dipertaruhkan
Dan aku akan mempertaruhkan segalanya bahkan jika itu hidupku sendiri,
asalkan itu demi keluargaku, aku rela
Aku rela mengorbankan apapun bahkan jika itu diriku sendiri aku rela, asalkan
itu untuk keluarga ku, aku rela
Aku rela hancur jika itu demi keluargaku,
Aku rela mengorbankan hidupku jika itu untuk keluarga ku,
Aku rela jika disakiti, dihina bahkan di rendahkan kalau itu demi keluargaku,
Aku akan selalu berusaha menjadi tameng bagi keluargaku bahkan sampai nafas
terakhirku,
Namun jika ada yang berani menyentuh keluargaku bahkan jika itu hanya se
ujung kuku saja, maka jangan salahkan aku jika pembalasannya akan lebih
kejam dari itu dan aku tak akan pandang bulu akan siapapun itu yang berani
menyentuh keluargaku, bahkan jika itu kerabatku sekalipun.
September… Sepi di Tengah Ramai
Malam ini terasa seperti aku berada disebuah sudut kosong yang gelap dan
dingin diantara meriahnya suasana pesta,
aku merasa sepi ditengah keramaian ini, sebuah perasaan yang tak lagi asing
bagiku,
perasaan yang seperti tak dianggap?
perasaan yang seperti ada namun tiada?
perasaan dingin di tengah kehangatan?
atau perasaan sunyi ditengah keramaian?
ah entahlah yang pasti perasaan seperti ini sudah tak asing lagi bagiku.
Oktober… Pagi
Pagi ini rasanya sangat berbeda untukku, hawa dingin yang biasanya terasa sangat menusuk kini terasa sedikit hangat walaupun sang surya belum menunjukkan dirinya,
rembulan pun terasa begitu indah dan begitu terang di ufuk timur pagi ini,
pagi ini rembulan tak sendirian di atas sana, ia ditemani oleh bintang kecil yang agaknya malu pada rembulan, hingga tercipta jarak yang memisahkan antara ia dan sang rembulan,
angin pun terasa berbeda kali ini, tenang, seolah tak ingin mengganggu burung-burung yang sedang bernyanyi ria, juga sang megha yang malu-malu menunjukkan pesonanya dalam menghiasi cakrawala,
diriku pun rasanya sedikit berbeda pagi ini, yah semoga hari ini terlewati dengan tanpa adanya awan mendung di hatiku.
November… Tenang
Rasa tenang yang telah lama hilang kini terasa lagi, rasa tenang setelah seharian bertemu dengan banyak orang yang penuh dengan kebisingan,
tenang yang berisik, tenang yang telah lama ku rindukan walaupun tetap dengan kebisingan itu,
tenang yang dingin, tenang yang dinginnya masih dapat kuterima, tenang yang mampu meredam bisingnya isi kepala dan mengurai benang kusut yang menjeratnya,
tenang yang beberapa waktu ini hilang kini akhirnya dapat kutemukan kembali walaupun tidak sepenuhnya kembali :)
Transformasi pengalaman panggung menjadi bentuk lain.
Yang lahir dari proses garap atau pasca-teater oleh pelakunya sendiri memungkinkan menjadi bentuk refleksi artistik
Menjembatani pengalaman panggung dengan pemikiran tentang teater itu sendiri.
Selalu muncul ketika pelaku mampu mengolah pengalaman itu menjadi gagasan, yang bukan melulu soal nostalgia proses.
Ketika peristiwa panggung juga merupakan cara manusia memahami pengalaman hidup melalui tubuh, cerita, dan refleksi.
dalam praktik kebudayaan dan teori seni, ada kecenderungan menarik: refleksi pasca-teater sering berada di wilayah antara seni, kritik, dan pengetahuan sekaligus.
Catatan Pinggir :
Apakah refleksi pasca-teater seharusnya tetap menjadi bagian dari seni, atau justru berubah menjadi kritik dan pengetahuan tentang seni?
Jika refleksi pasca-teater itu sendiri sudah menjadi karya, apakah pertunjukan panggung masih menjadi pusatnya atau justru hanya salah satu tahap dari proses seni yang lebih panjang?
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar