Panggung III

Teater Jangkar Bumi; Kangen, dan Harap-harap Cemas Setiap Kita.

✍ Afif Khoiruddin Sanjaya - 📅 18 May 2026

Teater Jangkar Bumi; Kangen, dan Harap-harap Cemas Setiap Kita.
Afif Khoiruddin Sanjaya

Oleh Afif Khoiruddin Sanjaya , Lahir di Kudus. Menulis resensi pertunjukan, Sutradara teater, dan mengajar Bahasa Indonesia.

Sebagai lelaki Daerah, agaknya menikmati pertunjukan teater berbahasa Jawa menjadikan Kesan lebih reflektif bagi aku. Apa lagi hal-hal terkait rindu, harapan-harapan, dan pengingat-pengingat yang adiluhung di atas panggung. Menguatkan moril kita yang kadang tengil, dan seringkali tergoda pada apa yang moderat, pada apa yang praktis, pada apa yang terbiasa.

Pertunjukan yang dibuka dengan warna pilu ini memenuhkan pohon jagung di sekujur sudut. Sial, karenanya aku terngiang bagaimana eratnya hubungan negara ini dengan lumbung pangan yang direncanakan sebagai penyelamat untuk kesejahteraan rakyat (itu beberapa tahun lalu, ya mboh). Tapi ini bukan soal negara dan jagung-jangungnya. Aku pikir Upaya Jangkar Bumi lewat lakon Kangen, menegaskan keberpihakannya pada mereka yang tak begitu kuat menghadapi keadaan, namun dipaksa teguh untuk tetap bertahan. Panggung Kangen bagai cermin kita bagaimana kearifan petani yang bertuah jadi pionir pangan itu tumbuh subur di hati aku; jangan-jangan mereka ingatkan kita bahwa Penyangga Tatanan Negara Indonesia kembali berperan penting sebagai tulang punggung pangan, terlebih dunia sedang sibuk menghiasi diri dengan urgensi, kemanusiaan sedang riweh dengan pameran, dan segala urat dituntut kencang untuk banyak hal yang mengandung beban. Mboh lah.

“ndasku mumet, ndasmu pie?”

(kepalaku rasanya rumit, kepalamu bagaimana?)

Dialog yang dibunyikan secara merdu itu, seperti mengaduk pikiran aku, Jangkar Bumi seperti memberi teror pada kita bahwa; kehidupan yang mengerikan ini punya jalannya masing-masing, untuk pulang dan berkabar, untuk mengingat diri yang pernah sebaik itu sekaligus seremuk ini, mengingat asal yang bukan sekadar tinggal, melarung kepedulian kepada mereka yang butuh, dan meraba diri untuk menjalani hari dengan hati-hati. Lakon Kangen seperti wakil dari ketulusan mereka yang memerankannya, kejujuran yang sedikit tengil mengakibatkan kalimat demi kalimat terasa lebih dekat sekaligus riskan. Dekat- sebab ia tumbuh di antara budaya utuh, itu berbentuk penggunaan Bahasa keseharian, dan pembahasan yang tak jauh dari penontonnya; berharap, berdoa, rasan-rasan, dan mengenang. Riskan- karena tak semua manusia yang hadir-pun memahami betul kosakata yang (saya yakin) maksudnya lahir dari kedalaman batin penulisnya. Hiyaaa

Menonton pertunjukan ini, 30 Maret 2026 lalu- sebagai penikmat teater, apa lagi Jangkar Bumi- yang berupaya keras untuk memadu-padankan seni, Pendidikan karater, dan dakwah ini seolah memanjat maksud untuk memberikan pengalaman yang esensionil, deep, dan menjurus pada norma yang reflektif. Aku piikir; Sistem pendidikan melalui seni membutuhkan model dan pengembangan pembelajaran yang menyenangkan. Cara ini dijawab oleh Denis Atkinson melalui bukunya, Art In Education: Identity and Practice, bahwa pengajar seni harus melihat cara peserta didik mengeksplorasi dan mewakili pengalaman mereka melalui beragam praktik seni. Penilaian terhadap praktik-praktik seni yang dilakukan peserta didik harus didasarkan pada representasi (signifikasi) dan maknanya dalam konteks pendidikan seni, hal ini menjadikan Teater Jangkar Bumi, dan Madrasah Qudsiyyah Kudus, hamper selalu menyentuh batin paling palung terhadap setiap penikmatnya.

Entah karena kepedulian Kudus dengan literature yang terbilang ugal-ugalan karena telah banyak baca- dan peristiwa berkembang pesat di daerahnya, atau memang cara-cara kebudayaan yang diterapkan selalu memperhatikan suatu masalah untuk diamati dan diselesaikan untuk bekal pengkaryaan mereka. Teater Jangkar Bumi seolah mengetahui betul bahwa untuk menjaga pendidikan teater terhadap kalangan muda (usia 14-25 tahun), maka teater sebagai media komunikasi pendidikan harus menjaga keterbacaan (literasi), kepercayaan, dan etika berteater. Hal ini diyakini bahwa teater sebagai peristiwa komunikasi yang terjadi di dalam benak para penonton termasuk peristiwa komunikasi bagi pelakunya. Artinya, teater sebagai studi budaya adalah ruang teatrikal, kehidupan membutuhkan adanya seorang aktor, sebuah adegan, beberapa alat untuk terjadi adegan itu, dan sebuah tujuan. Dengan demikian, pendidikan seni budaya, khususnya teater merupakan media komunikasi antarsesama dalam kelompok kehidupan sebagai sebuah pengalaman yang memberi kesempatan bagi peserta didik untuk menampilkan kualitas kepemimpinan budaya.

Lagi, kita sama tau bahwa Kurikulum sekolah di Indonesia, salah satunya menggaris-bawahi seni (termasuk seni teater) sebagai sebuah ‘ilmu’ yang dipelajari di jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Hal ini menjadikan seni harus diperlakukan sebagai sebuah objek yang dipikirkan, didiskusikan, dan dikupas melalui analisis berbagai perspektif. Ia tidak lagi memiliki kebebasan yang utuh untuk bersamasama mendefinisikan dirinya sendiri dan memberi makna terhadap segala fenomena bersama-sama dengan keutuhan fisik dan psikis alami manusia. Pada posisi demikian teater sebagai media komunikasi yang dalam perspektif komunikasi berfungsi sebagai instrumental penting untuk dikaji dan dipahami. Dengan demikian, tujuan dari penulisan ini adalah menunjukkan kaitan teater dengan dunia pendidikan, proses komunikasi seni teater sebagai media komunikasi, dan manfaat nilai seni teater sebagai media Pendidikan di sekolah; lebih bermakna, lebih berdampak baik.

Teater Jangkar Bumi seolah memberi tawaran pada kita untuk tetap berharap meski hidup kadang berjalan dengan sekarat. Dalam lakon Kangen, mereka seolah mewakili kita sebagai orang tua; yang selalu berkewajiban memberdayakan pola pikir relefan sekaligus perilaku santun akan berupaya habis-habisan mengantar anak-anak ke gerbang Pendidikan yang tak hanya mengandung keilmuan global, kebanyakan orang tua aku pikir akan memilih jalur moral yang turut menggembleng adab dan adat mereka untuk bekal mendatang, atau barangkali setiap orang tua menginginkan biar hidup anaknya lebih berkesan, lebih besar dari hidupnya sendiri, lebih baik dari keadaannya saat ini. barangkali, dalam lakon Kangen, Jangkar Bumi Ingin memberi peringatan keras bagi kita semua bahwa; sedewasa apapun seorang anak, di mata para orang tua, ia akan tetap menjadi seorang anak, yang tetap membutuhkan bimbingan, petunjuk, dan batasan dalam menghadapi hari yang kadang beban dan sialan.

Apapun itu, Jangkar Bumi dalam Kangen karya Noko Mores ini, secara tidak langsung memberi bekal pulang kita semua untuk memeluk diri karena sudah kuat berjalan sejauh ini, mengingatkan kita untuk tetap berharap meski satu-satunya kepastian adalah ketidak-pastian, mengajak kita agar selalu dan tak pernah lupa untuk merapalkan doa untuk orang-orang yang kita sayangi, serta tetap menjadi pribadi yang mawas diri- berteater dengan nikmat, menimba ilmu dengan khidmat, dan melawan hal-hal sulit dengan cara paling sahabat. Selamat.


Komentar (1)

Ezar 18 May 2026 20:29
Apa nama judul untuk pentas yang akan mendatang

Tinggalkan Komentar